Huawei Memasuki Masa-Masa Sulit

15 Mei lalu, Amerika Serikat melalui presidennya telah membuat keputusan penting dengan menandatangani apa yang disebut sebagai “Perintah eksekutif untuk mengamankan teknologi informasi dan komunikasi serta rantai pasokan layanan (Executive Order on Securing the Information and Communications Technology and Services Supply Chain)”

Trump menganggap bahwa negara asing semakin mengeksploitasi kerentanan teknologi dan layanan informasi dan komunikasi di negeri paman Sam tersebut. Hal tersebut kemudian menjadi ancaman bagi keamanan nasional Amerika Serikat. Oleh karena itu, Trump mengambil langkah-langkah untuk melindungi keamanan dalam negeri dengan melarang akuisisi, impor, pemindahan, pemasangan, transaksi, atau penggunaan teknologi atau layanan informasi dan komunikasi (transaksi) apa pun oleh siapa pun, atau sehubungan dengan properti apa pun, dan tunduk pada yurisdiksi Amerika Serikat.

Lalu apa imbasnya bagi Huawei?

Penggunaan frasa “foreign adversaries (musuh asing)” dalam perintah eksekutif tersebut kemudian berkembang secara luas menjadi apa yang disebut sebagai “Huawei ban (larangan Huawei).”

Huawei dan berbagai usaha yang berafiliasi dengannya, termasuk manufaktur chipset HiSilicon, masuk ke daftar entitas departemen perdagangan Amerika, dimana perusahaan-perusahaan AS sekarang jika ingin mengeksor produk mereka ke Huawei diharuskan untuk mendapatkan lisensi dari pemerintah.

Sedangkan akibat dari perintah eksekutif Trump di atas, lisensi tersebut tampaknya akan sulit diperoleh. Situasi ini akan berdampak langsung dan berbahaya pada rantai pasokan Huawei, karena perusahaan asal negeri tirai bambu ini membeli banyak komponen dari perusahaan-perusahaan besar AS seperti Intel, Microsoft, Google, dan lain-lain.
Meski secara teknis, aturan itu hanya akan efektif setelah dituangkan ke dalam Daftar Federal, dimana hal tersebut belum dilakukan, namun beberapa perusahaan Amerika sudah bereaksi.

19 Mei lalu, Google mengumumkan bahwa mereka resmi menangguhkan bisnis dengan Huawei.

Ini berarti Google tak lagi boleh mentransfer perangkat keras, perangkat lunak, dan layanan teknis kecuali yang tersedia untuk umum melalui lisensi sumber terbuka, kata sumber yang dikutip dari Reuters.

Pengguna smartphone Huawei yang memiliki aplikasi Google, akan terus dapat menggunakan dan mengunduh pembaruan aplikasi yang disediakan oleh Google, kata seorang juru bicara Google. " Google Play dan Google Play Protect akan terus berfungsi pada perangkat Huawei yang ada," kata juru bicara itu, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Penangguhan ini dapat membuat bisnis smartphone Huawei bakal mengalami guncangan di luar Cina karena raksasa teknologi itu akan segera kehilangan akses ke pembaruan sistem operasi Google Android. Versi masa depan dari smartphone Huawei yang berjalan pada Android juga akan kehilangan akses ke layanan populer termasuk Google Play Store dan aplikasi Gmail dan YouTube.
"Huawei hanya akan dapat menggunakan Android versi publik dan tidak akan bisa mendapatkan akses ke aplikasi dan layanan eksklusif dari Google," kata sumber itu.

Mengikuti langkah Google, Informasi via bloomberg menyatakan bahwa beberapa pabrikan semikonduktor asal Amerika Serikat seperti Qualcomm, Intel dan Xilinx dilaporkan tidak akan lagi memasok piranti mereka ke Huawei sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.

Larangan perdagangan dari pemerintah yang diikuti langkah-langkah masif industri teknologi dalam negeri Amerika Serikat secara serius merusak kemampuan Huawei untuk melakukan bisnis. Perusahaan ini bergantung pada chip Intel baik untuk servernya maupun PC seperti MateBook X Pro. Broadcom dan Xilinx memasok chip untuk bisnis jaringannya. Dan sementara Huawei membuat chipset sendiri untuk banyak smartphone, mereka mungkin masih membutuhkan Qualcomm untuk beberapa chip.

Situs Engadget menyatakan bahwa Huawei sendiri telah mempersiapkan kondisi ini dengan menimbun komponen dan merancang chip sendiri sambil berharap perang dagang AS-Cina akan segera berhenti. Namun cara ini mungkin hanya efektif beberapa saat saja, mengingat pasokannya hanya cukup untuk beberapa bulan saja.

Jika konfrontasi dagang ini tidak segera mereda atau berakhir, Huawei mungkin terpaksa mencari alternatif atau kehilangan bagian-bagian penting dari bisnisnya. Negara Cina mungkin tak akan menyukai hal ini mengingat Huawei meruakan salah satu perusahaan terbesar mereka dan penurunan bisnis mereka akan memiliki implikasi yang luas bagi perekonomian Cina.

Tanggapan Huawei
Beberapa hari setelah perintah eksekutif Trump yang diikuti oleh langkah-langkah konkret perusahaan-perusahaan Amerika, Huawei Global melalui Huawei Indonesia memberikan pernyataan resmi mengenai situasi ini.


“Huawei telah memberikan kontribusi yang substansial untuk pengembangan dan pertumbuhan Android di seluruh dunia. Sebagai salah satu mitra global utama Android, kami telah bekerjasama dengan sangat erat dengan platform open-source mereka untuk mengembangkan ekosistem yang bermanfaat bagi pengguna dan industri.

Huawei akan terus memberikan pembaruan keamanan dan layanan purna jual untuk semua produk smartphone dan tablet Huawei dan Honor yang ada yang mencakup yang telah dijual atau yang masih ada sebagai stok secara global.

Kami akan terus membangun ekosistem perangkat lunak yang aman dan berkelanjutan, untuk memberikan pengalaman terbaik bagi semua pengguna secara global.”
a

Go to top